Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia, dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan, begitu, Tuan Jenderal?

— Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

Pengelolaan pengetahuan bagi organisasi masyarakat sipil seharusnya akan menyentuh lingkar-lingkar cerita dan kearifan lokal mulai dari tingkat konstituen, individu, komunitas, organisasi hingga ke jaringan. Dan pengelolaannya tidak boleh sedikitpun membuatnya tercerabut tak berpribadi.

Kita harus menemukan prinsip, nilai dan metode pengelolaan pengetahuan kita sendiri, tidak semata patuh didikte untuk mengadopsi teori dan model yang dilahirkan oleh sektor lain, dan (mungkin saja) diperuntukkan untuk tujuan-tujuan lain. Pencariannya seharusnya laksana upaya penemuan air kehidupan, Air Sejati yang sesungguhnya berdiam di dalam diri kita sendiri.

Kami mengundang Anda semua untuk berdiskusi, jika Anda memiliki kelonggaran waktu dan suasana batin yang sama, mari kita mulai!

22 tanggapan
  1. Tino Yosepyn
    Tino Yosepyn says:

    Jika pengetahuan adalah candu.
    Biarlah aku rakus akan dia.
    Jika petahuan adalah buah budi dan daya.
    Kan kunikmati dengan segenap hati.
    Jika pengetahuan adalah hasil cinta kasih.
    Itu adalah buktiku untuk Indonesiaku.

    Reply
  2. galing
    galing says:

    Pengetahuan menjadi medium utk mencari kebajikan. Namun, proses itu menjadi demikian rumit. Karna tidak serta merta pengetahuan yg di dpt akan menjadikan pribadi-pribadi yg bijak. Kenyataannya, banyak orang pintar dgn pengetahuan yg luas, justru tak bersenyawa dgn masyarakat. Malahan banyak profesor dan akademisi jauh dr masyarakat. Lalu, metode seperti apa yg perlu utk di ‘explorasi’, ditumbuhkan dan dikelola, agar menemukan air sejati, sbg dahaga dr jiwa2 gelisah yg tak pernah rela dia tercerabut dgn akar, yg tak pernah ingin hidup bak menara gading dan tak pernah rela menjadi sahaya dinegeri sendiri yg kaya raya. 🙂

    Reply
  3. gnegus
    gnegus says:

    Jadi tuan2 dan nyonya2, daripada pusingin teori knowledge management yg diproduksi tuan2 bule, atau attitude juragan2 yang katanya “berpengetahuan” tapi tidak mau berbagi pengetahuan, mari kita tanyakan diri masing2, seberapa banyak pengetahuan yang kita ketahui yang sudah ditulis dan disebarluaskan?

    Sungguh, saya jadi malu sendiri tuan2 dan nyonya2 terhormat..

    Reply
  4. Bob Sarwo
    Bob Sarwo says:

    Manusia adalah center of change, yang untuk dapat berubah dia membutuhkan pengungkit perubahan. Faktor pengungkit bisa berbagai macam, mulai dari yang dipersiapkan secara sadar atau bahkan tidak didasari (ke-tiba-tibaan) yang “memaksa” dia menyiapkan diri. Pengetahuan manusia (knowledge) adalah belantara yang butuh kebajikan sesorang untuk memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhannya saat ini dan masa depan. Meskipun, kualitas kebajikan dipengaruhi oleh pengetahuan juga. Untuk itu, sharing knowledge menjadi sangat penting untuk membagi pengalaman bijak dan bajik sehingga membantu meringankan kawan dalam menghadapi ketiba-tibaan yang datang. Selain itu, memproduksi pengetahuan yang manfaat butuh waktu sehingga shariang knowledge akan memperpendek waktu replikasi dari pengetahuan tadi menjadi lebih berdaya guna pada konteksnya. Dalam dunia CSO/NGO/CBO dan semua istilah yang lain, sharing pengetahuan akan sangat penting untuk percepatan replikasi dalam menyiapkan media yang sesuai untuk perubahan yang di kehendaki. Sebegitu pentingnya knowledge sehingga dibeberapa tempat banyak yang “harus membayar tarif tertentu” untuk mendapatkan pengetahuan tertentu. Organisa masyarakat sipil selain sebagai pengguna, juga dapat sebagai mediator terjadinya transfer knowledge itu baik antar organisasi maupun masyarakatnya langsung. gagasan ini genuine untuk mengumpulkan semangat berbagi untuk sesama kita dan harus diwujudkan. Prinsipnya, berbagi dengan cara yang mudah untuk siapapun.. salam

    Reply
    • gnegus
      gnegus says:

      hai Mr Bob, slamat kenal ya 😉 pengen naggepin komentar mr bob ya,
      bicara knowledge sharing, knowledge production, yang aku amati di dunia internet, itu sudah terjadi dengan sangat baik di komunitas-komunitas open source seperti wordpress, linux dan lain sebagainya. disini aku melihat motivasi dasar mereka untuk memproduksi dan berbagi pengetahuan, ada kesamaan di antara sesama mereka yaitu kesamaan hobby, kesamaan profesi. ada penghargaan disana, ada rasa terima kasih atas ilmu yang di bagi oleh orang lain sehingga membuat orang lain tergerak untuk ikut berbagi, sehingga knowledge society untuk tema2 tadi terus berkembang dan menggurita ke seluruh dunia.

      sekarang bicara NGO/CSO/CBO yang pada dasarnya adalah sebuah entitas, sekumpulan orang dengan beragam background dan kepentingan.
      apakah ada kesamaan yang bisa ditemukan dalam perjuangan aktivis2 di LSM/NGO/CSO/CBO seperti layaknya komunitas opensource di atas?

      misal aja ya, “perjuangan melawan korupsi”, dimana pengetahuannya berada ? mungkin tersimpan di masing2 lemari arsip lembaga yang menangani isu tersebut yang susah diakses oleh lembaga lain.

      mungkin itu kali ya PR nya, mencari kesamaan ditengah kebhinekaan kepentingan, motif, isu untuk satu tujuan, menjadi Indonesia yang lebih baik 🙂

      Reply
  5. galing
    galing says:

    Sejenak saya mulai berpikir saat memperhatikan website ini, serasa ada yang janggal. Pertama, dalam qoutes dari pramoedya bahwasannya sesuatu itu ‘berkepribadian’, namun jika melihat tagline air sejati saya tidak melihat keberpihakan dan ‘kepribadian’ dari tagline “pengetahuan, pembelajaran dan perubahan”. Masih normal, lalu dimana differensiasinya? karena itu, untuk lebih konsisten, buat pak admin (tanpa mengurangi rasa hormat saya) mengapa tidak dirubah saja menjadi “pengetahuan untuk perubahan”. Mengapa demikian, karena saya pikir, percuma orang berpengetahuan tanpa melakukan perubahan. Begitu juga percuma kita melahap pengetahuan hanya untuk belajar tapi attitude dan mental kita tetap sama, hanya ‘user’….jadi sesuai dengan quotes dari Pramoedya, “Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya”….sekian…mohon koreksinya jika saya salah. Tks

    Reply
    • Eko Komara
      Eko Komara says:

      Aku vote untuk usulan Galing, sembari mengutip tulisanmu “Spirit Pengetahuan”, hehe.. :

      Pengetahuan menjadi ekslusif karena hanya orang-orang terdidik saja yang secara sosial “diakui” (memiliki pengetahuan). Arus wacana di ‘tiadakan’ dari masyarakat awam, komunitas atau masyarakat adat. Terang judge sosial pada gilirannya “memandulkan” proses pengetahuan itu sendiri. Spektrum pengetahuan pun kemudian hanya ada pada aras cendekiawan dan institusi pendidikan. Penilaian sosial tentang pengetahuan membuat masyarakat tidak dapat tumbuh berkembang berdasarkan atas pengetahuan. Karena pada dasarnya pemahaman sosial mengenai pengetahuan di Indonesia menyulitkan masyarakat lain untuk membangun pengetahuan karena tidak “diakui” ke –pengetahuan-nya.
      http://dipantara.wordpress.com/2014/03/03/pengetahuan-di-sekitar-kita/

      Reply
  6. gnegus
    gnegus says:

    @galing, jadi orang yang berpengetahuan tapi tidak melakukan perubahan itu bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak berkepribadian ya ? he he *headshot*

    Reply
  7. galing
    galing says:

    @eko komara hehe…makasih mas, vote atas usulane dan kutipan tulisan di blogpri gue…
    @gnegus, sepertinya demikian, karena hakikat pengetahuan seyogyanya akan melakukan perubahan. Disitulah manfaat dr pengetahuan, coba dibayangkan kalo banyak intelektual namun tak melakukan perubahan buat apa pengetahuan yg dimiliknya, tak memiliki dampak apapun. Lantas, dimanakah kepribadiannya, kalo hidup hanya terhanyut dgn arus sosial. “dan sebaik2 ilmu dan pengetahuan yg dimiliki adalah mereka yg mau berbagi dan ‘mendekatkan pd kebaikan dan kebijaksanaan”. Hehe

    Reply
  8. Basuki Rahmad
    Basuki Rahmad says:

    Salam Kenal teman teman, sementara mengamati diskusi yang menarik di sumber air yang baru , air sejati.

    Terima kasih Mas Eko undangannya tuk bergabung

    Bas

    Reply
  9. nm.ruliady
    nm.ruliady says:

    Salam… salam…

    Keren dan menarik pilihan kutipan ini. Gua sepakat dengan apa yang disampaikan Mbah Pram, tentang di soal kepribadian. Bahwa apa yang terjadi merupakn dinamika memperlihatkan dan mewujudkan kepribadian. Jadi mungkin ini hak azazi, dan kalau sekarang belum diakui, mungkinn bisa juga kita ajuin ke PBB buat tambahan hak azazi. Sayangnya, semakin diformalkan terkadang malah bikin perkelahian dari pada perlindungan. Dan sepertinya, memang manajemen tak bisa mengelola sepenuhnya hal-hal yang azazi.

    Cuma pandangan gua agak beda sedikti dengan Mbak Pram. Sebabnya juga simplel kok, cuma karena gua lebih suka memilah pemahaman mengenai ilmu dan pengetahuan itu sendiri. (Salah satu yang gua kagumi dari bahasa Indonesia adalah kata-kata majemuk ini. Orang-orang tua kita begitu jelinya menggabungkan dua kata yang saling melengkapi. Jadi menurut gua kata majemuk bukanlah tunggal, tetapi manunggal. Kata-kata yang menyatu, ia adalah paket).

    Ilmu, menurut gua nih, adalah hukum alam, atau sebagian hukum alam yang kita ungkapkan. Misalnya waktu Newton duduk-duduk dan melihat apel jatuh, ia merasakan dan melihat hukum alam yang membuat apel itu jatuh. Setelah ia amati terus, teliti, dan aneka coba-coba, dapatlah ia hukum gaya tarik bumi, atau gravitasi. Kira-kira begitu, mohon maaf kalau nama hukum yang dikeluarkan mbak Newton saya salah tulis. Sekarang ilmu tentang gaya (termasuk gaya tarik) sudah semakin berkembang, artinya ada hukum-hukum alam lain yang kita lihat. Bodah dan salahkan mbah Newton? Jelas nggak. Karena dia, ilmuwan-ilmuwan lain bisa masuk ke hukum alam lain yang dianggap lebih canggih. Padahal ya sama saja. Ilmu ya ilmu, kedudukan mereka sejajar, dalam kehormatan yang setara, dan sekali lagi itu pandangan gua loh.

    Lalu dimana pengetahuan? Pengetahuan menurut gua berbeda jauh dengan ilmu. Tapi ah, kayaknya jadi berkepanjangan ya. Mohon maaf gua mesti cabut dulu nih…

    Salam….

    Reply
  10. Yayasan Toloka
    Yayasan Toloka says:

    JIKA ORANG PINTAR BERPIKIR, LEBIH SUSAH TENGGOK KEBAWAH DARI PADA MEMBUSUNGKAN DADA KEDEPAN SEBAGAI ORANG HEBAT, namun orang kecil berpikir akan lebih mudah menunduk dari tengada teatas seperti orang sombong, olehnya marilah kita anak negeri yang hidup diatas rumput ini MENIRU SIFATNYA PADI !

    Reply
  11. Siti Kh
    Siti Kh says:

    Saya baru saja bergabung dengan Organisasi Non Pemerintah bernama HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) yang berkantor pusat di Lubuk Pakam, Deli Serdang Sumatera Utara. Posisi saya adalah sebagai Manajer di Pusat Pengetahuan dan Pembelajaran. Senang sekali menemukan website ini, atas rekomendasi dari Ketua HAPSARI. Saya ingin belajar banyak dari sini, semoga teman-teman yang ahli dalam bidang ini, dapat membantu.

    Terimakasih dan Salam,
    Siti

    Reply
  12. intan
    intan says:

    pengetahuan akan senantiasa berkembang mengikuti jejak pembelajaran yang di alami oleh masing-masing orang. namun pengetahuan itu tidaklah membuat orang semakin tertutup kelabu keangkuhan, sementinya semakin ringan untuk berbagi untuk saudara dan kaum yang memerlukannya, tidak harus menuggu mesin pencetak rupiah memerintahkan

    Reply
  13. nugie.berau
    nugie.berau says:

    salam kenal kawan…
    menarik mencermati obrolan yang ‘serius’ ini,..karena saya sedang semedi,…semoga obrolan ini menjadi “wangsit’ yang berguna

    terima kasih admin
    salam

    nugie.berau

    Reply
  14. kang eros
    kang eros says:

    ketika ilmu pengetahuan menjadikan kita berasumsi bahwa dunia ini kita dihadapkan pada hukum sebab akibat kemudian ada ide ada materi,dan berfilsafat aku berpikir maka aku ada,,manusia terus menggali pengetahuan yang teru bergulir seiring waktu,,

    Reply
  15. Eko Risanto
    Eko Risanto says:

    Baru klik. Tapi sudah terasa aroma daya tariknya. Banyak ilmu, informasi, dan wawasan… Apalagi jika sudah berenang-renang di dalamnya. Site ini ok ,,,,

    Reply
  16. Bukhari Suhhan
    Bukhari Suhhan says:

    Tuhan meninggikan derajat orang beriman dan berilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan adalah cahaya, olehnya peradaban akan bersinar dan tanpa pengetahuan hanya akan membuka ruang bagi kegelapan, peradaban manusia menjadi purba dan dikuasai kebodohan

    Reply

Sila Tanggapi

Mau berkontribusi?
Sila gabung diskusi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *